Adat dan Toleransi Beragama

Adat dan Toleransi Beragama

Penulis: Syauqina Aina Falasyifa (XII-8), Silmi Kaffah (XII-8), Kaluna Aquaira Annaghmi (XII-8)

Tanggal: March 4, 2026

Halaman: Cerpen

Adat dan Toleransi Beragama

Cerita ini merupakan tugas Mata Pelajaran Akidah Akhlak Kelas XII Semester Gasal yang diampu oleh Ibu Zainurrohmah, S.Pd. mengaplikasikan materi kerukunan dalam bentuk sebuah cerpen.

Liburan Panjang akhir sekolah telah tiba. Rendy memanfaatkan liburan yang cukup panjang itu untuk dikhitan. Khitan adalah hal yang wajib dilakukan bagi laki-laki muslim.
“Semoga lekas sembuh ya, Rendy,” kata Pak Suman. Rendy pun menjawab, “Aaah, Iya, Yah. Terimakasih.”
“Setelah kamu sembuh nanti, kita adakan syukuran khitan. Nanti teman-temanmu, Jamal, Karina, Jeman, dan Jono diajak ya, Ren,” kata Ayah Rendy.
Rendy menjawab, “Iya, Yah.”
Setelah dua minggu berlalu, liburan sekolah pun selesai. Murid-murid Kembali masuk sekolah. “Hei, Bestie. Besok sabtu, aku minta kehadiran kalian di rumahku jam dua siang ya. Keluargaku mengadakan syukuran khitan,” ajak Rendy, Jamal, Karina, dan Jono menjawab dengan bersamaan. “Siap!!!”
“Eh, acara khitananmu nanti ada pengajiannya juga gak? Apakah harus pakai hijab?” tanya Irene. “Apakah aku juga harus pakai sarung dan peci, Ren?” tanya Jamal juga.
“Hahaha, gak perlu, Irene, Jamal, yang penting kalian pakai baju yang sopan saja,” kata Rendy.
“Tapi, kan, nanti semua tamu pati pakai hijab, Ren!” Kata Irene.
“Iya, nanti kalau kami tidak bisa baca doanya gimana?” kata Jamal. “Jangan khawatir, nanti kalian akan aku temani selama pengajian,” kata Jono.
“Beneran tidak apa-apa nih?” Tanya Jamal.
“Tidak apa dong, aku kan no tipu-tipu club. Lagian juga kalian kan sudah kenal dengan ayah ibunya Rendy. Mereka baik kok!” jawab Jono.
“Okelah, kalau begitu,” kata Irene. Hari sabtu pun tiba. Hari dilaksanakannya syukuran khitanan Rendy. Acara dimulai. Rendy melantunkan ayat suci Al Qur’an dalam acara khataman tersebut. Jono juga hadir dengan memakai sarung dan peci. Ia menyimak pengajian tersebut. Sementara itu Irene dan Jamal berada di dekat Jono. Mereka berdua duduk tenang sambil memperhatikan seluruh rangkaian acara. Tak lama kemudian pengajian pun berakhir. Rendy menemui teman-temannya.
Rendy menghidangkan banyak sekali camilan.
“Terima kasih buat kehadirannya ya, teman-teman. Maaf menunggu lama,” kata Rendy.
“Aah…., Cuma sebentar kok,” jawab Jamal.
“Oi, semua snack ini aku sediakan khusus untuk kalian. Ayo dimakan. Kalau gak mau makan aku saja yang makan, hahaha bercanda ya gais ya,” kata Rendy sambil bercanda.
“Hahaha, Iya, Ren. Nanti aku kabarin sama Si Jono dan juga Irene. Ya gak, Jon, Ir?” jawab Jamal sambil bercanda.
“Kalau aku sih sisain sedikit, soalnya sisa snacknya aku bawa pulang dan akan aku makan sambil nonton TV, hahaha bercanda ya, ren, jangan dibawa serius. Hehehe,” kata Jono sambil makan snack yang ditawarkan oleh Rendy tadi.
“Hahaha, bisa saja kamu Jon,” kata Rendy dan Irene secara bersama.
“Ren, akum au tanya?” tanya Jamal.
“Tanya saja tidak apa-apa,” kata Rendy yang membiarkan Jamal bertanya.” Kalau di Islam, tiap laki-laki pasti sunat ya? Tanya Jamal.
“Iya, Mal. Di Islam, khitan hukumnya wajib untuk laki-laki. Tujuannya agar selalu terjaga kebersihannya demi sahnya pelaksanaan ibadah,” jawab Rendy.
“Oh, begitu ya,” jawab Jamal.
“Iya, Mal, kayak begitu,” jawab Rendy.
Mereka terus asyik mengobrol selepas pengajian. Hingga tiba-tiba….. ada seorang anak kecil yang tiba-tiba berteriak.
“Kak Rendy!!!” Teriakan anak kecil tersebut.
“Eh, Dek Wony, baru datang ya? Sini, Dek, kakak kenalin sama teman-teman Kak Rendy,” kata Rendy.
“Perkenalkan teman-teman, ini Wony adik sepupuku. Nah, Dek Wony, ini Namanya Kak Jamal. Kalau ini Namanya Kak Irene. Nah, kalau yang satu ini namanya Kak Jono yang paling cakep.”
“Hadeh… bisa saja kamu Ren. Tapi, kalau dilihat-lihat juga wajahku memang cakep sih hehehe,” kata Jono dengan penuh percaya diri.
“Aduh-aduh, ada-ada saja kamu, Jon,” kata Irene dengan heran.
Ternyata yang berteriak dengan suara kecil adalah adik sepupu Rendy yang Bernama Wony. “Halo kakak-kakak. Namaku Wony. Kok, Kak Irene gak pakai hijab? Kak Jamal juga gak pakai sarung dan peci? Ini kan acara pengajian. Wony saja yang masih kecil saja pakai hijab kok!” Kata Wony dengan polosnya.
“Em… itu… em… anu…, jawab Jono dan Irene dengan kebingungannya.
“Aduuh… itu begini Dek…,” jawab Jono dengan bingung.
“Kalau Wony gak mau pakai hijab, Mama pasti bilang nanti Allah gak akan sayang sama Wony. Jadi, nanti Allah pasti juga gak akan sayang sama Kak Irene lo, atau Kakak mau pinjam hijabnya Wony?” jawab Wony dengan polos.
“Aduh, Wony ini ada-ada saja, itu karena Kak Irene dan Kak Jamal berasal dari latar belakang agama yang berbeda. Nah, Wony perhatikan cerita Om ya. Di Indonesia ada enam agama dan berbagai kepercayaan yang berbeda-beda. Ada Islam, Protestan, Katolik, Budha, Hindu, dan Konghucu. Setiap agama memiliki aturan masing-masing. Tidak bisa disamakan. Walapun kita berbeda-beda, kita harus saling menyayangi dan menghormati satu sama lain. Tradisi menutup kepala ada di beberapa agama dan kepercayaan, bukan hanya di agama Islam saja. Dalam tradisi islam pemakaian hijab untuk perempuan memang dianjurkan. Namun, kita tidak boleh memaksa orang lain untuk mengikuti sesuai agama kita. Ini yang namanya toleransi. Contohnya saja, Kak Irene dan Kak Jamal tidak perlu memakai baju muslim seperti kita.” Penjelasan dari ayah Rendy.
Wony menjawab, “Ahhh! Wony mengerti. Seperti Pelangi ya, berbeda-beda tapi ketika bersatu terlihat indah.”
“Dek Wony memang pintar. Siapa dulu dong Kakaknya,” kata Rendy.
“Hahaha,” mereka semua tertawa bersamaan.
“Eh, ini masih ada makanan. Yuk! Kalian semua ikut makan,” tawar Ayah Suman.
“Siap, Om Suman. Hehehe,” jawab Jamal sambil tertawa.
Toleransi beragama yang merupakan sikap saling menghormati dan menghargai antar penganut agama lain. Seperti tidak memaksakan orang lain untuk menganut agama kita, tidak mencela atau menghina agama lain dengan alasan apapun, serta tidak melarang ataupun mengganggu umat agama lain untuk beribadah sesuai agama atau kepercayaan masing-masing. Dengan bersikap toleransi, seseorang sudah menghargai dan menghormati agama lain yang berbeda keimanannya. Ketika seseorang mampu memiliki sikap toleransi, kita akan mengenal banyak orang dengan berbagai latar belakang agama. Sikap toleransi menumbuhkan rasa kasih dan meningkatkan rasa persaudaraan antar sesama. Sehingga menghindarkan adanya kesalahpahaman dan permusuhan.

Kategori: Karya

Tags: None