Di Balik Lelah, Ada Jalan

Di Balik Lelah, Ada Jalan

Penulis: Febrian Reinaldi

Tanggal: February 23, 2026

Halaman: Cerpen

Di Balik Lelah, Ada Jalan

Di balik Lelah, Ada Jalan menjadi persembahan apik dari Ektrakulikuler di MA Amtsilati Bangsri Jepara. Ektra Cerpen menjadi wadah penyalur untuk mengembangkan potensi siswa di MA Amtsilati.

“Ting!”

Sebuah notifikasi WhatsApp muncul di ponselku. Pesan itu bertuliskan:
“Ucok, besok saya ada meeting dengan direktur PT Jaya Abadi. Kamu siapkan materi rapatnya.”
Aku menarik napas panjang dan mengembuskannya pelan.
“Hufff… nambah lagi bebannya,” gumamku sambil memijat kepala. Bagaimana tidak? Baru saja aku diberi tugas memeriksa dokumen kantor, kini ditambah membuat materi perusahaan. Ingin rasanya aku menolak dan berteriak:
“PUNYA HATI NGGAK SIH JADI ORANG? YANG INI BELUM SELESAI, DIKASIH TAMBAHAN DADAKAN! EMANG YANG HIDUP CUMA BAPAK DOANG, HAH!!”
Tapi tentu saja, semua itu hanya ada di kepala. Posisi di kantor? Karyawan rendahan. Mengeluh hanya akan memperburuk keadaan.
“Baik, Pak. Segera saya buatkan.”


Jariku mengetik kalimat standar yang selalu diucapkan karyawan biasa.
Aku menyeruput kopi hitam, meluruskan kaki sebentar. Malam itu aku merenungi nasib, menatap rumah yang kosong melompong—tanpa lukisan, tanpa sofa—hanya ruangan dengan dua kamar, kursi kayu di ruang tamu, dan TV tabung yang bahkan sudah tak pernah kugunakan.
“Andai aku bisa menikmati waktu… satu hari saja,” gumamku sambil menatap langit-langit.
“Hmmm… ya sudah, garap aja dah materi ini.”
Sepi. Hanya suara jangkrik dan kendaraan tetangga yang melintas.
“Ini, Pak, materi yang Bapak minta.”
Aku menyodorkan beberapa lembar kertas kepada atasan—Pak Cipto.
Ia memeriksa tiap bagian dengan teliti.
“Ckckck… sudah berapa lama kamu kerja di perusahaan saya?” tanyanya tanpa menoleh.
“Empat tahun ini, Pak.”
“Jabatan kamu?”
“Account Executive, Pak.”
Pak Cipto akhirnya menatapku serius. “Saya kasih kamu dua pilihan. Pertama, saya naikkan jabatanmu jadi Chief Financial Officer, mengawasi keuangan perusahaan. Kedua, kamu tetap di jabatan sekarang, tapi gaji naik 30%.”
Jantungku berdegup cepat. Tangan terasa kaku. Ruangan ber-AC itu rasanya berubah panas. Masa depan keuanganku benar-benar sedang dipertaruhkan.
“Sa… sa… saya lebih memilih naik jabatan, Pak,” jawabku terbata-bata.
Pak Cipto menepuk tangannya, puas. “Boleh juga nyali kamu. Tapi ada syaratnya.”
Ia berdiri, membuat suasana semakin tegang.
“Kalau kamu bisa membuat klien tertarik di meeting kali ini, kamu saya naikkan. Tapi kalau gagal, kamu akan ambil penawaran kedua. Bagaimana?”
Aku menelan ludah. “Baik, Pak. Saya setuju.”
“Kalau begitu, ikut saya.”
Aku mengikuti Pak Cipto menuju ruang meeting.


“Selamat pagi Bapak dan Ibu sekalian. Sesuai kesepakatan minggu lalu, hari ini kita membahas ulang tahun kolaborasi PT Jaya Abadi—milik Pak Malik tentunya,” ujar Pak Cipto sambil menunjuk pria brewokan yang duduk di ujung meja.
“Dan PT Candra Anugrah milik saya pribadi,” tambahnya, disambut tepuk tangan hadirin.
“Baik, Bapak dan Ibu sekalian. Hari ini asisten saya akan menjelaskan rancangan program kolaborasi kita.”
Pak Cipto duduk. Kini semua mata tertuju padaku.
“Selamat pagi, Bapak dan Ibu sekalian. Saya Ucok… akan menjelaskan rancangan kolaborasi kita kali ini.”
Degup jantungku perlahan stabil. Tuhan, mudahkanlah.
Tepuk tangan riuh memenuhi ruangan begitu presentasi selesai.
“Hehe… Pak Cipto, asisten Anda ini memang hebat,” puji Pak Malik sambil mengacungkan dua jempol. “Awalnya saya kira dia karyawan biasa. Ternyata joss!”
Pak Cipto tertawa. “Hahaha, semua berkat kerja keras kita hari ini. Baik, silakan menuju ruang makan yang sudah dipersiapkan.”


Semua orang berdiri, bercanda, dan bergerak ke arah pintu. Aku masih duduk terpaku.
“Ucok, kamu memang hebat.”
Pak Cipto menepuk pundakku, lalu menyusul yang lain keluar.
Beberapa jam lalu aku gemetar ketakutan. Kini, masa depan baru seakan terbuka lebar di depan mata.
Aku bangkit pelan, melangkah mengikuti Pak Cipto dari belakang.
Masa depan baru…
Aku datang menyambutmu.

Kategori: Karya

Tags: None