Di Ujung Pencarian Tentang Aku yang Belum Selesai

Di Ujung Pencarian Tentang Aku yang Belum Selesai

Penulis: Dini Hidayah

Tanggal: September 22, 2026

Halaman: Cerpen

Di Ujung Pencarian Tentang Aku yang Belum Selesai

Sebuah Cerpen Karya Murid MA Amsilati "Seseorang tidak bisa memilih sukses datang besok, tidak bisa pula meminta kehidupan yang mudah hanya karena menginginkannya."

Langit sore mulai berubah jingga ketika bel pulang sekolah berbunyi. Riuh suara siswa memenuhi koridor SMA Harapan Bangsa. Sebagian berlari menuju gerbang, sebagian lagi berkumpul di kantin sambil tertawa dan membicarakan hal-hal yang bagi mereka terasa begitu penting.

Di antara keramaian itu, Dean keluar kelas sambil memasukkan earphone ke telinganya. Seragamnya masih rapi, tetapi dasinya sudah dilonggarkan. Di pundaknya hanya tergantung satu tas hitam yang terlihat ringan karena hampir tak pernah dipenuhi buku pelajaran.

"Dean!” teriak Aldi dari parkiran. “Malam ini ikut balapan, nggak?"

Dean tersenyum lebar. "Gas lah! Mumpung masih muda. Whatever opportunity, trabas aja lah!"

Teman-temannya bersorak. Kalimat itu sudah menjadi prinsip hidup Dean. Baginya, masa remaja adalah waktu untuk mencoba semuanya. Semakin nekat, semakin keren. Semakin banyak pengalaman, semakin hebat. Padahal, tidak semua pengalaman layak dicoba.

Dean sebenarnya bukan anak bodoh. Sejak SMP, ia selalu masuk lima besar. Guru-guru mengenalnya sebagai murid yang cepat memahami pelajaran. Ia tidak perlu belajar berjam-jam untuk mendapatkan nilai bagus. Sayangnya, kepintaran itu membuatnya terlalu percaya diri.

"Belajar nanti aja."

"Masih ada waktu."

"Ulangan besok juga paling bisa."

Begitulah pikirannya setiap hari. Lama-kelamaan, rasa malas mengalahkan kemampuannya.

Berbeda dengan Dean, Riki bukan siswa terpintar di kelas. Bahkan, ia sering harus mengulang materi berkali-kali agar benar-benar paham. Namun, satu hal yang tidak pernah berubah adalah semangatnya.

Di meja belajarnya tertempel sebuah tulisan sederhana: "Jangan cepat menyerah, masa depan tak bisa di-request!"

Kalimat itu selalu ia baca setiap kali merasa lelah. Ia tahu, hidup bukan seperti memesan makanan lewat aplikasi. Seseorang tidak bisa memilih sukses datang besok, tidak bisa pula meminta kehidupan yang mudah hanya karena menginginkannya. Semua harus diperjuangkan.

Dean sering merasa heran akan kebiasaan Riki. Suatu sore di kelas yang mulai sepi, Dean menghampiri meja temannya itu.

"Ki."

"Iya?"

"Kamu belajar mulu. Emang nggak capek?"

"Capek."

"Terus, kenapa nggak santai aja?"

Riki menutup bukunya. "Soalnya cita-citaku nggak bakal datang sendiri."

Dean tertawa kecil. "Hidup tuh dinikmati."

"Justru aku lagi menikmati prosesnya," balas Riki.

Dean hanya menggeleng. Menurutnya, Riki terlalu serius menjalani hidup.

Sementara itu, kehidupan Dean semakin bebas. Kini, ia berpacaran dengan seorang siswi kelas sebelah. Dua minggu kemudian putus, lalu sebulan berikutnya sudah menggandeng perempuan lain. Teman-temannya bahkan mulai bercanda.

"Dean, pacar baru lagi?"

Dean hanya tertawa. "Namanya juga nyari yang cocok."

Padahal jauh di dalam hati, ia sendiri tidak pernah benar-benar serius dengan hubungannya. Semuanya hanya untuk mengikuti prinsipnya: mencari kesenangan dari rumah ke rumah.

Malam minggu menjadi waktu favorit Dean. Suara knalpot meraung memenuhi jalanan kota. Puluhan motor berkumpul. Asap bercampur aroma bensin memenuhi udara. Dean mengenakan helm hitam sambil memutar gas motornya. Jantungnya berdegup kencang—bukan karena takut, melainkan karena merasa "hidup".

"Tiga ... dua ... satu ...!" Motor-motor melesat. Angin menerpa wajahnya sementara sorot lampu-lampu jalan berubah menjadi garis-garis cahaya.

Dean tertawa di balik helmnya. "Mumpung masih muda, trabas aja, hahaha!"

Namun, ia tidak pernah memikirkan bahwa satu kesalahan kecil bisa mengakhiri segalanya.

***

Suatu Senin pagi, guru bimbingan konseling sekolah memanggil Dean untuk menghadap ke kantor.

"Dean."

"Iya, Bu."

"Nilaimu turun hampir di semua mata pelajaran.”

Dean hanya mengangguk. "Nanti saya perbaiki,” jawabnya singkat.

Sesaat setelah keluar ruangan, ia kembali nongkrong bersama teman-temannya seolah tidak terjadi apa-apa.

"Ah ... masih aman," gumamnya.

Di sisi lain, Riki menjalani hari-harinya dengan sederhana. Pulang sekolah, belajar, mengikuti bimbingan belajar, sesekali bermain futsal bersama teman-teman, atau menonton film. Ia tetap menikmati masa mudanya. Namun, ia tahu kapan harus berhenti. Baginya, menikmati hidup bukan berarti kehilangan arah.

Suatu sore, Dean dan Riki duduk di tribun lapangan sekolah. Dean memandangi langit yang perlahan mulai redup.

"Ki."

"Hmmm?"

"Menurutmu, masa muda itu buat apa?"

Riki berpikir sejenak. "Buat membangun masa depan."

Dean tertawa. "Kalau aku sih buat cari pengalaman."

Riki mengangguk. "Itu juga penting."

"Nah, kan."

"Tapi pengalaman juga harus dipilih."

Dean mengernyit. "Maksudnya?"

"Mencari jati diri bukan berarti harus mencoba semua hal."

Dean terdiam. Kalimat itu terdengar sederhana, namun entah mengapa terus terngiang di kepalanya.

Hari kelulusan seharusnya menjadi hari yang paling membahagiakan. Seragam putih abu-abu penuh coretan tanda tangan teman. Tawa dan tangis bercampur menjadi satu. Halaman sekolah dipenuhi siswa yang sibuk berfoto bersama keluarga. Ada yang memeluk gurunya, ada yang berjanji akan bertemu lagi suatu saat nanti.

Dean berdiri di tengah keramaian itu sambil memegang map berisi surat kelulusan.

Beberapa minggu setelah kelulusan, grup kelas mulai ramai. Satu per satu teman mengunggah foto mengenakan almamater kampus impian. Ada yang diterima di universitas negeri, ada yang merantau ke luar kota, ada pula yang mulai bekerja sambil kuliah.

Ia duduk di teras rumah setiap sore, menggulir layar ponselnya. Sesekali ia berhenti pada foto Riki. Riki berdiri di depan gerbang universitas dengan senyum yang begitu lebar. Di tangannya tergenggam map berisi berkas daftar ulang.

Di bawah unggahannya tertulis kalimat yang dulu sering ia ucapkan: "Jangan cepat menyerah. Masa depan tak bisa di-request."

Dean menatap lama foto itu. Dulu ia selalu menganggap Riki terlalu serius. Kini, ia justru iri pada keseriusan itu—bukan karena Riki sudah selangkah lebih maju, melainkan karena Riki tahu ke mana ia sedang berjalan.

Sementara dirinya: "Mumpung masih muda. Whatever opportunity, trabas aja lah."

Saat itu, kalimat tersebut terdengar keren. Sekarang, setelah semua benar-benar berdiri di persimpangan hidup, ia baru menyadari bahwa selama ini ia salah memahami arti "mencari pengalaman".

Ia memang memiliki banyak hal: cerita, kenangan, dan banyak kesenangan. Namun, hampir tidak ada satu pun yang benar-benar membantunya menentukan masa depan.

Ia menghela napas panjang. "Kalaupun aku diterima di perguruan tinggi ... aku bahkan nggak tahu setelah itu aku mau jadi apa."

Kalimat itu keluar begitu pelan, tetapi terasa sangat berat. Untuk pertama kalinya, Dean mengakui bahwa yang selama ini ia cari bukanlah jati diri. Ia hanya sibuk mengejar kesenangan sesaat. Ia pikir bergonta-ganti pacar adalah proses pendewasaan. Ia kira balapan liar adalah cara membuktikan keberanian. Dan terakhir, ia yakin bahwa semua pengalaman akan membuatnya menemukan dirinya sendiri.

Ternyata tidak!

Semua itu hanya membuat waktunya habis tanpa arah. Dean menatap langit senja yang perlahan berubah gelap. Ada satu hal yang sangat ia sesali—bukan karena ia pernah bersenang-senang, melainkan karena ia terlalu lama menghabiskan masa mudanya untuk pengalaman yang tidak membuatnya bertumbuh.

Ia lupa bahwa mencari jati diri bukan berarti mencoba semua hal. Mencari jati diri adalah mengenali kemampuan, menemukan tujuan, lalu berani memperjuangkannya.

Dean tersenyum tipis. Senyum yang berbeda dari biasanya. Bukan senyum karena berhasil menghindari pelajaran, bukan senyum setelah menang balapan, melainkan senyum seseorang yang akhirnya berani mengakui kesalahannya.

Ia sadar penyesalan memang datang paling akhir. Namun, selama masih diberi waktu untuk memperbaiki diri, semuanya belum benar-benar terlambat.

Hari itu, tepat setelah lulus SMA, Dean akhirnya menemukan satu tujuan pertamanya. Bukan menjadi orang yang paling sukses maupun paling hebat, melainkan menjadi seseorang yang tidak lagi menyia-nyiakan kesempatan untuk membangun masa depannya. Dan mungkin, itulah awal dari pencarian jati diri yang sebenarnya.

Kategori: Karya

Tags: None