Lihat Aku

Lihat Aku

Penulis: Aina Mardiah - Kelas XII 7

Tanggal: August 27, 2024

Halaman: Cerpen

Lihat Aku

“Gita tidak butuh itu Bu, Gita bahagia saat ayah masih ada, walaupun dengan hidup sederhana tapi Ibu sayang sama Gita, Ibu perhatian sama Gita,”

“Kenapa nilai kamu sekarang anjlok, jarang mengumpulkan tugas, dan sering bolos?” tanya Ibu pada Gita. Gita pun hanya menunduk dan tidak berani berbicara sepatah katapun.
“Jawab Ibu, Gita?” bentak ibu pada Gita.
“Kenapa Bu? Ibu baru perhatian sama Gita setelah Gita sudah seperti ini?” ucap Gita.
Lalu Ia pun menunduk kembali tidak kuasa menahan air mata.
“Masih berani jawab? Sekarang lebih baik kamu mengerjakan tugas agar tidak menjadi anak yang membangkang. Urusan kantor Ibu masih banyak! ditambah lagi kamu!”. Ibu langsung pergi dengan menghentakkan kakinya.
Namanya Regita Naada Allya biasa dipanggil Gita di sekolahnya. Gita masih duduk di bangku kelas 9 SMPN Cipto Kusumo, Jakarta Barat. Memang benar prestasi Gita di sekolah semakin menurun drastis bahkan itu pun sesuai dengan keinginan Gita sendiri. Ia sengaja menurunkan pretasinya hanya untuk mendapatkan perhatian dari sang ibu. Keluarga Gita yang sekarang bisa dibilang keluarga terpandang walaupun tanpa sang ayah. Ayah Gita telah meninggal sejak Gita di bangku kelas 5 SD. Hal tersebut membuat ibunya berubah drastis. Keluarga yang selama bertahun-tahun lalu harmonis sekarang hanya kenangan manis untuknya. Ibunya bekerja keras untuk mencukupi kebutuhan anak satu-satunya itu dan sekarang telah terbayarkan dengan menjadi CEO sebuah perusahaan yang cukup besar.

Terlalu sibuk dengan urusan kerja sampai-sampai Gita merasa dikucilkan dan bahkan ibunya tidak menganggap Gita. Gita pun tidak tertarik untuk mencari teman bercerita keluh kesah hidupnya di sekolah. Saat di rumah, Gita hanya bersama Bibi Sarni.

Disuatu hari Gita tengah duduk di kelas sembari menikmati sarapan, Gita berdiri tatkala dipanggil oleh guru. Akhirnya, Ia beranjak ke ruang guru.

“Assalamualaikum Bu,” ucap Gita.
“Wa’alaikumsalam.. Sini Gita duduk, Ibu ingin bicara,” sahut Bu Rina.
Tiba-tiba pintu terbuka terlihat Bibi Sarni tersenyum lalu duduk.

“Begini Bu, maksud Saya memanggil Gita dan Ibu untuk memberi tahu bahwa akhir-akhir ini Gita terlihat tidak semangat sehingga prestasinya menurun,” ucap Bu Rina lagi.
“Dia bukan Ibu Saya, Bu!” Gita berdiri lalu keluar dari ruang guru.
Gita merasa kecewa kepada semua orang di sekitarnya. Hari berlalu, saat malam sebelum pembagian rapor terakhir, Gita berniat untuk mengajak Ibunya pergi ke sekolah dengan menulis surat kecil di atas laptop. Keesokan harinya ibu Gita pun tidak datang dan saat Gita pulang dari sekolah.
“Sini biar Ibu lihat rapor kamu,” ucap Ibu Gita. Gita terdiam.
“Mana prestasimu? Sudah mau lulus tapi seperti ini! Sepertinya kamu salah pergaulan,” jelas Ibu Gita.

“Kenapa Ibu tadi tidak datang ke sekolah?,” tanya Gita.
“Kamu mau Ibu datang ke sekolahan padahal nilai kamu begini?,” sahut Ibu Gita.
Gita dimarahin habis-habisan, Ibu Gita berniat untuk membawa Gita sekolah ke asrama putri di Bandung.

Saat Gita datang, semua orang menatap heran. Bagaimana tidak? Ia datang dengan gaya yang berbeda dari yang lain. Berhari-hari Gita hidup jauh dari Ibunya dan sejak itu hidup Gita sebagai seorang pem-bullying1 pun dimulai. Kepribadian Gita jauh berubah dari Gita yang sebelumnya. Pada pagi yang cerah di kamar nomor 02.

“Byuur,” suara air terdengar dan membasahi tubuh Lida.
“Makanya kalo disuruh beli minuman tuh cepat,” ucap Gita sambil mendorong Lida.
“Tau nih, sudah dikasih tahu beberapa kali juga tetap sama saja,” sahut Nufaa.
“Maaf, Lida tidak sengaja,” ucap Lida lemah.
Lida adalah orang yang kerap kali menjadi korban bullying1 Gita dan teman-teman. Lida masih tidak mengerti kenapa harus ia yang di-bullying1, padahal masih banyak orang memiliki attitude2 lebih buruk daripada dia. Lida selalu menuruti perkataan Gita dan teman-temannya selagi itu tidak menganggunya.

Suatu hari Lida disambang oleh kedua orang tuanya. Gita memandang dari jauh dan Ia teringat kembali keluarga harmonisnya dulu. Gita mengepalkan tangannya saat Lida dirangkul oleh ayahnya. Gita menghela napas panjang dan pergi menuju kamarnya.
“Git, sepertinya ini bagus deh!” jelas Kaisa menunjukkan model baju.
“Iya sudah beli saja! Nanti biar Aku yang belikan,” kata Gita.
Gita selalu menuruti perkataan temannya karena Ia selalu mendapat kiriman uang banyak dari Ibunya. Saaat di kelas Gita mengerjakan soal sengaja mengubah semua rumus padahal Gita tahu jawaban yang benar. Sehingga Gita selalu mendapat nilai rendah di kelas, selalu tertidur, dan bolos sekolah. Hal itu semata agar Ibunya datang ke asrama. Namun selama berbulan-bulan Ibunya tidak pernah datang walaupun pihak sekolah selalu melapor. Di hari yang sama, Ibu Lida kembali menjenguk Lida. Pandangan Gita tertuju pada Lida, matanya tiba-tiba memerah menahan air mata.
“Gita benci semua orang,” ucap Gita dalam hati.

Keesokan harinya Gita berencana menjahili Lida lagi. Saat Lida tengah berjalan, Ia pun tersandung kaki Kaisa. Lida disiram dengan air kopi dan garam.
1. Segala bentuk penindasan atau kekerasan
2. Sikap
“Byuur.”
“Ups, maaf ya, makanya kalo jalan lihat,” kata Rere.
“Iya! Jangan fokus ke HP terus,” sahut Gita menginjak gawai Lida hingga rusak. Lida hanya pasrah tidak kuasa berbicara apapun.
Pada malam hari, Gita yang melihat Lida sedang memakan masakan Ibunya. Gita sebenarnya iri. Gita tidak pernah dimasakan makanan kesukaannya seperti Lida. Ketika semua orang tengah tertidur, Gita menangis tersedu-sedu dipojokan sambil melihat foto keluarga. Lida yang mendengar suara itu terbangun lalu menghampiri Gita. Lida heran, orang jahat mana bisa menangis seperti itu.
“Gita, mengapa kamu menangis?,” rangkul Lida.
“Tidak usah ikut campur, pergi saja sana tidur”, Gita menghempaskan tangan Lida.

Di pagi yang cerah seperti biasa Lida selalu membersihkan kamar. Saat Lida membersihkan kolong ranjang Gita, Lida melihat buku diary3 Gita, banyak foto-foto yang berserakan. Foto yang ditemukan Lida adalah foto keluarga Gita. Lida pun tidak sengaja membaca isi curhatan Gita, akhirnya sekarang Lida mengerti mengapa Gita menjadi jahat kepadanya. Hanya karena rasa isi dan cemburu Gita kepada Lida. Setelah itu, Lida berjalan menuju kelas Ia pun berniat untuk menemui Gita. Di sisi lain Gita juga berjalan menuju kelas setelah membeli minuman untuk teman-temannya. Gita tidak sengaja mendengar Kaisa, Rere, dan Dannia sedang berbicara tentang dirinya
”Iya juga sih, memang si Gita tuh gitu! Seenggaknya diam saja,” ucap Rere.
“Aku sudah bilang, Kita jauhin saja si Gita,” sahut Kaisa dengan suara cempreng.
“Tapi kalau kita jauhin dia, nanti kita tidak dapat barang-barang mahal lagi,” timpal Kaisa.
“Manfaatin saja!,” kompak Kaisa, Rere dan Dania.
Tiba-tiba Lida datang memukul meja dengan keras.
“Kenapa kalian bicarakan teman sendiri di belakang, Gita itu sudah baik sama kalian!,” ucap Lida.
“Kamu tidak usah ikut campur! Lalu kenapa kamu belain Gita padahal Gita sudah menindas kamu dan satu lagi, sebenarnya kita baik ya! Cuma disuruh sama Gita saja,” sinis Rere.
“Meskipun Dia seperti itu ke aku seenggaknya kalian tidak perlu membicarakan dia,” ucap Lida dan langsung pergi untuk mencari Gita.
Saat itu juga Gita mendengar ucapan Lida membelanya. Gita lalu pergi berteduh di bawah pohon. Gita termenung dan merasa bahwa semua orang didekatnya sama saja, meraka munafik. Gita menutup wajahnya dengan tangan dan menangis. Lalu datang Lida mengelus pundak Gita pelan.
“Sudah Git, Kamu bisa kok lewatin semua ini! Masih ada aku,” nasihat Lida.

3. Harian

“Kenapa kamu baik sama aku, padahalkan Aku jahat sama Kamu,” suara Gita terbata-bata.
“Tidak mengapa, aku tidak sengaja baca buku harianmu, maaf Gita, kita ke kelas yuk,” senyum Lida.

Berhari-hari Gita sudah jauh dari teman lamanya. Gita selalu berdua dengan Lida, awalnya susah untuk membiasakan mereka berteman. Tapi lambat laun, Gita sangat baik kepada Lida.
Dua tahun berlalu, Ibu Gita tetap sama saja tidak pernah menjenguk Gita. Saat ujian akhir kelas 12, Gita duduk di sebelah Lida. Gita melihat Lida mengerjakan soal dengan cepat. Gita ragu, padahal ia tahu jawaban yang benar tetapi ia memilih untuk mengarang jawaban agar saat kelulusan Ibunya datang ke asrama.
“Kenapa Git, melamun terus?,” tanya Lida.
“Tidak, sedikit pusing saja,” jawab Gita.
Lida pun melihat tulisan rumus yang benar di tangan Gita tapi jawaban Gita berbeda.
“Git, kalo kamu tahu jawabnnya, jawab saja yang benar! Siapa tahu nanti kalo kamu dapat peringkat Ibumu datang ke sini dan bangga padamu”. Nasihat Lida membuat Gita tersenyum dan ia pun semangat untuk mengerjakan ujian.
Berhari-hari ujian pun selesai. Hari ini adalah kelulusan Gita dari asrama. Gita senang karena ia melihat namuanya berada di peringkat pertama. Lida ikut senang juga karena Gita dapat membuktikan kepada Ibunya bahwa Gita mendapatkan prestasi yang bagus di kelas. Gita menghubungi Ibunya untuk datang ke acara kelulusan. Tapi setelah menunggu lama sepertinya Ibu Gita tidak akan datang. Tiba-tiba ada mobil milik Ibunya Gita. Gita heran bercampur senang. Namun ternyata itu adalah Bibi Sarni bukan ibunya.
“Gita , Ibu menitipkan buket bunga ini untuk kamu,” ucap Bibi Sarni.
“Ibu kenapa tidak datang Bi?,” tanya Gita.
“Ibu lagi ada urusan, katanya penting dan tidak bisa ditinggal,” sahut Bibi Sarni
Pernyataan Bibi Sarni membuat Gita terdiam sejenak dan ia menjatuhkan buket bunganya. Gita hanya ingin Ibunya hadir meskipun tanpa membawa apa-apa.
“Bilang sama Ibu! Kalo Ibu tidak datang sekarang Gita bakalan pergi dari hidup Ibu selamanya,” ujar Gita lalu pergi ke kamar.
Bibi Sarni langsung menelpon Ibu Gita. Ibu Gita akhirnya datang ke acara kelulusan Gita. Gita yang melihat Ibunya pun tersenyum. Ia menyembunyikan piala, sertifikat juara kelas, dan beasiswa ke luar negeri di belakang tubuhnya. Namun berbeda dengat raut wajah Ibu Gita yang tidak tersenyum saat turun dari mobil.
“Plaak,” tamparan keras menghantam pipi Gita. Gita pun kaget dan menjatuhkan piala yang ada di belakang tubuhnya.
“Buat apa kamu bilang gitu ke Bibi Sarni? Ibu ada urusan yang penting,” bentak Ibu Gita. Lida yang melihat kejadian itu pun menghampiri Gita.
“Gita kamu tidak apa-apa?,” tanya Lida.
“Tidak apa-apa Lid, Aku sudah biasa seperti ini,” jawab Gita.
“Ibu itu sama saja, disaat Gita ingin buktiin ke Ibu kalo Gita bisa meraih prestasi Ibu malah menampar Gita seperti ini. Ibu beda semenjak ayah meninggal, Ibu jadi sibuk dengan pekerjaan,” ujar Gita.
“Atas dasar apa kamu bicara begitu? Tidak perlu membicarakan masa lalu, Ibu berjuang agar kamu mendapat pendidikan yang layak dan hidup berkecukupan. Apa balasan kamu sama Ibu?” bentak Ibu dengan suara lantang.
“Gita tidak butuh itu Bu, Gita bahagia saat ayah masih ada, walaupun dengan hidup sederhana tapi Ibu sayang sama Gita, Ibu perhatian sama Gita,” sahut Gita. Lida melihat dan mendengar sendiri percakapan Gita dan Ibunya, sontak heran ternyata yang dirasakan Gita lebih daripada yang ia pikirkan.
“Siapa yang mengajari kamu bicara lantang sama Ibu kamu sendiri?,” tanya Ibu Gita.
Gita pun menghela napas panjang.
“Jika ini yang ibu mau, maafkan Gita Bu. Gita sayang sekali sama Ibu,” ucap Gita.
“Braak.”
Ternyata ungkapan tersebut merupakan ungkapan terakhir Gita sebelum akhirnya Ia memilih lari ke jalan raya yang ramai mobil berlalu lalang. Gita pun tertabrak truk dengan kecepatan tinggi. Ibu Gita pun teriak. Tubuhnya lemas dan matanya memerah meneteskan air mata. Tidak sanggup berkata apa-apa. Lida pun menangis sedu. Gita memang sering mencoba untuk mencelakai dirinya. Namun selalu dihalangi oleh Lida. Gita pun menitipkan buku harian kepada Lida untuk Ibunya.
To4 : Ibuku Paling Cantik
Ibu... bagaimana kabarmu sekarang? Gita baik-baik saja di sini. Meskipun Ibu tidak pernah menanyakan kabar Gita tapi Gita selalu khawatir sama Ibu. Gita sayang sama Ibu. Maafin Gita Bu, selalu menyusahkan Ibu. Bikin Ibu susah dan harus bekerja keras demi Gita. Jika Ibu membaca surat ini mungkin Gita sudah tidak bisa lagi mengenggam tangan Ibu. Gita tahu kalo Ibu sebenarnya sayang sama Gita. Ibu harus berjanji sama Gita, Ibu harus tetap baik-baik saja meskipun sudah tidak ada Gita disisi Ibu lagi.
I LOVE YOU5 IBU

*****
4. Kepada
5. Aku cinta kamu

Kategori: Keluarga

Tags: None