Mengupil di Tengah Medan

Mengupil di Tengah Medan

Penulis: Hawari Anshorulloh

Tanggal: December 11, 2025

Halaman: Puisi

Mengupil di Tengah Medan

Kelas sastra MA Amtsilati

Ketika tanganku mengais tanah liat merah,

terpampang mosaik sunyi di pelataran terlupakan.

Selalu aku bertamu pada hening berserabut,

Yang Hanya terdengar lagu dangdut patah patah

Kupandang juga arsip luka yang tercecer

membakar bara sabar yang terselubung asap gorengan.


Jantung pertiwi kini ngos-ngosan

terjerat serak dalam kosan keramat,

amnesia melumat nadi perjuangan,

parasnya remang, hantu tanpa rupa,

bagai arang yang beku sambil salto,

larut berceraian dalam drama rempong.


tidakkah penghuni rumah rempah

telah lupa akan sepuluh November?

di mana memanjat tiang bendera saja adalah ujian manut,

kulihat kau asyik berjoget dalam bayang-bayang semu

tak terukur

rasa sebel para leluhur


Mereka rela mencabik senyum kempotnya,

menjadi tangga di pundak yang berderit,

agar kau bisa meraih tetes bintang di puncak gunung kemerdekaan.

Tapi semoga kau tak terpeleset

dan terjaga dalam gelombang riang suka cita


Hei para bayang pahlawan,

gerimis bisu yang menembus debu medan,

lirih langkahmu menggurat puisi luka,

melintasi rongga waktu yang tergerogoti sepi,

menjadi nyala samar di balik kelam kelabu

kadang muncul, kadang ngumpet


aku kemudian berkata kepada lelah

dan lelah malah curhat dengan getar pilu.

kami bertukar argumen dengan suasana mencekam

tentang siapa yang harus disalahkan


Kini, mereka lupa akan sumpah di Batavia

dijalan usang bertuliskan keramat saya

namun setidaknya,

kupastikan sejarah tidak kupendam bersama upil-upil bandel

karena dari serpihan itu pula

berbagai ragam ucapan yang kau wariskan


akan ku panen jadi gosip dalam ribath kesatuan

Kategori: Acara

Tags: None