Sebuah Syair kehidupan

Sebuah Syair kehidupan

Penulis: Ahmad Nurhikmat XI-2

Tanggal: August 11, 2025

Halaman: Karya Tulis

Sebuah Syair kehidupan

ketenangan jiwa

Ujian terkadang datang bertubi-tubi bagai rintik hujan. Tak jarang pula datang hanya beberapa kali bagai tetes air di musim kemarau. Pada dasarnya, ujian bagai hembusan angin. Terkadang kencang dan terkadang pelan tergantung jiwa yang berada didalamnya.
Adakala jiwa yang lemah bagai pohon rapuh, ada kalanya pula jiwa itu lembut bagai hijaunya rumput. Tetapi rumput yang nampak kecil dan mungil, tak akan pernah tumbang oleh angin kencang yang datang menerpa.
Begitu pula manusia, orang dengan jiwa yang rapuh akan mengeluh dengan mudahnya, sedangkan seorang yang jiwanya lembut ibarat rumput yang kuat saat diterjang angin. Angin diibaratkan ujian dan ujian ialah bagian dari kehidupan.
Bagaikan yang-layang, apabila semakin tinggi terbangnya, maka semakin besar daya angin menerpanya. Seimbang di antara birunya langit, sejajar dengan arah burung terbang hinga layangan itu dapat melihat betapa luas dan indahnya dunia. Ia tak memperdulikan angin, tapi justru memanfaatkannya sebagai daya untuk tetap seimbang.
Seperti itulah kita seharusnya. Tak peduli seberapa masalah yang menimpa tak peduli seberapa masalah yang menerpa. Kita harus tetap kuat, tetap fokus dan tetap bertahan untuk menggapai tingkatan impian tertinggi kita. Bukan malah terhempas jatuh, tetapi teruslah bangkit dan mencoba, itulah filosofi layangan.
Mulanya ia terombang-ambing oleh angin yang berhembus, namun disaat ia mengangkasa, bukannya terjatuh, ia justru semakin membumbung dalam keseimbagan yang sempurna. Kehidupan pula menuntut kita untuk terus berkembang dan tidak pantang menyerah oleh keadaan.
مَنْ كَانَ يَوْمُهُ خَيْرًا مِنْ أَمْسِهِ فَهُوَ رَابِحٌ، وَمَنْ كَانَ يَوْمُهُ مِثْلَ أَمْسِهَ فَهُوَ مَغْبُوْنَ، وَمَنْ كَانَ يَوْمُهُ شَرًّا مِنْ أَمْسِهِ فَهُوَ مَلْعُوْنَ
Artinya:
"Barang siapa yang hari ini lebih baik dari hari kemarin, dialah tergolong orang yang beruntung, (dan) barang siapa yang hari ini sama dengan hari kemarin dialah tergolong orang yang merugi dan bahkan, barang siapa yang hari ini lebih buruk dari hari kemarin dialah tergolong orang yang celaka."
Hidup adalah permainan bagi orang yang mengandalkan logika, namun berupa kesialan untuk mereka yang mengandalkan perasaan. Di sisi lain, kehidupan ini seringkali seperti candaan. Sebuah candaan yang memiliki kode dan rumusan tertentu kemudian tersirat bagi orang-orang yang berpikir kritis.
Kita harus benar-benar berubah. Meskipun di saat perubahan kita yang lakukan, selalu saja disertai dengan persoalan. Cacian, cercaan, hingga olok-olokan. Semua itu adalah sahabat karib perubahan. Dan seorang yang ingin berubah harus menerimanya.
Apakah kita akan tinggal diam saat kapal tetanggamu telah canggih oleh navigasi dan ilmu pengetahuan?
Akankah kita hanya berdiam diri dikala musuhmu terus berkembang dan melakukan peningkatan kekuatan?
Al-Quran menyampaikan supaya berlomba-lombalah di dalam kebaikan. berkompetisi dikala seseorang disekitarmu telah berubah dan maju melangkah.
Apakah kita akan tetap diam meskipun terombang-ambing di tengah lautan? Jawabannya tentu saja tidak.
Imam Syafi’i pernah berkata,” lebih baik belajar dan mengorbankan masa muda dengan menyelami samudra ilmu dibanding menikmati masa tua dengan kesengsaraan akibat kebodohan di masa tua.”
Lantas, apakah kita hanya tinggal diam?
Apakah kita akan tetap sama setiap harinya?
Bila iya, berarti kita telah memilih kebodohan sebagai teman masa tua. Dengan ‘bodoh’nya meninggalkan masa tua yang indah demi kelenaan masa muda.
Bahagia bukan hanya dengan bersenang-senang, kawan. Kebahagiaan juga tidak melulu diperoleh dengan bersenang-senang. Bahagia itu sederhana. Dan ungkapan “Berbahagialah, hidup ini hanya sekali”. Ungkapan tersebut betul-betul keliru.
Tidak seharusnya anak-anak muda di zaman ini tergoda dengan kesenangan sementara di masa muda. Berpacaran, mabuk-mabukkan, tawuran dan lain sebagainya. Sebab semua itu hanyalah ilusi dan fatamorgana. Kesenangan sementara. Kenikmatan sebelum kematian dan kejayaan sebelum kehancuran.

Kategori: Keluarga

Tags: None