Gairah Kurikulum di Indonesia, Apakah Sudah Sesuai dengan Tujuan?

 

Penulis: Machfud Albachtiar, S. Pd.

Editor: M. Tri Wibowo, S. Pd.

Setiap periode pemerintahan pasti selalu ingin mengusahakan yang terbaik untuk rakyatnya. Mereka berlomba-lomba untuk membuat suatu kebijakan atau program yang dapat menarik perhatian masyarakat. Agar dapat terpilih kembali pada masa periode pemerintahan berikutnya mereka selalu berusaha membuat terobosan atau langkah-langkah kebijakan baru yang dapat menjadi nilai plus dalam pandangan masyarakat.

Pendidikan menjadi salah satu sektor yang dapat diterima di seluruh wilayah, sehingga setiap pemerintahan/menteri yang terpilih berusaha untuk membuat perubahan-perubahan yang cukup signifikan di bidang tersebut dengan tujuan untuk menambah poin politik dan elektabilitas mereka. Kurikulum pendidikan menjadi salah satu bidang yang sangat prospektif untuk dijadikan sebagai ajang menambah nilai positif dalam pandangan masyarakat. Apabila maju di bidang pendidikan pasti masyarakat akan merasa puas dan memilih mereka kembali di periode selanjutnya.

Namun, fakta di lapangan menunjukkan bahwa ketika terjadi dinamika atau perubahan kurikulum yang cukup sering terjadi di tanah air kita, ada sisi negatif yang dirasakan oleh masyarakat, terlebih guru dan juga siswa tentunya harus segera beradaptasi dengan kurikulum baru. Bisa kita lihat, perubahan kurikulum yang terlalu prematur menyebabkan munculnya permasalahan-permasalahan baru di Indonesia. Hal ini menimbulkan pertanyaan-pertanyaan dari berbagai pihak. Mengapa kurikulum sebelumnya diganti? Apa urgensi dari perubahan kurikulum? Apakah kurikulum sebelumnya sudah berhasil secara komprehensif? Jika tidak, apakah penyebabnya? Payahnya lagi, sering kali apa yang dibawa tidak mendasar dan belum tentu efektif jika diterapkan. Jadi, para guru dan siswa dijadikan kelinci percobaan kah setiap pergantian kurikulum?

Sejarah dinamika perubahan kurikulum pendidikan di Indonesia cukup panjang. Sejak masa setelah kemerdekaan, terhitung negara kita sudah mengalami 11 kali pergantian kurikulum pendidikan. Berikut uraian singkat perjalanan kurikulum pendidikan di Indonesia:

NO TAHUN NAMA KURIKULUM PENJELASAN KONTEKS KURIKULUM
1 1947 “Rentjana Pelajaran 1947” Kurikulum pertama yang lahir pada masa kemerdekaan memakai istilah dalam bahasa Belanda “leer plan” artinya rencana pelajaran, istilah ini lebih popular dibanding istilah “curriculum” (bahasa Inggris). Perubahan arah pendidikan lebih bersifat politis, dari orientasi pendidikan Belanda ke kepentingan nasional. Sedangkan asas pendidikan ditetapkan Pancasila. Kurikulum yang berjalan saat itu dikenal dengan sebutan “Rentjana Pelajaran 1947”, yang baru dilaksanakan pada tahun 1950. Sejumlah kalangan menyebut sejarah perkembangan kurikulum diawali dari Kurikulum 1950. Bentuknya memuat dua hal pokok: (1) daftar mata pelajaran dan jam pengajarannya; (2) garis-garis besar pengajaran.
2 1952 “Rentjana Pelajaran Terurai 1952” Kurikulum ini lebih merinci setiap mata pelajaran yang kemudian diberi nama “Rentjana Pelajaran Terurai 1952”. Kurikulum ini sudah mengarah pada suatu sistem pendidikan nasional. Yang paling menonjol dan sekaligus ciri dari kurikulum 1952 ini bahwa setiap rencana pelajaran harus memperhatikan isi pelajaran yang dihubungkan dengan kehidupan sehari-hari. Silabus mata pelajarannya menunjukkan secara jelas bahwa seorang guru mengajar satu mata pelajaran.
3 1964 “Rentjana Pendidikan 1964” Pokok-pokok pikiran kurikulum 1964 yang menjadi ciri dari kurikulum ini adalah bahwa pemerintah mempunyai keinginan agar rakyat mendapat pengetahuan akademik untuk pembekalan pada jenjang SD, sehingga pembelajaran dipusatkan pada program Pancawardhana, yaitu pengembangan moral, kecerdasan, emosional/artistik, keprigelan, dan jasmani.
4 1968 “Kurikulum Bulat” Kelahiran Kurikulum 1968 bersifat politis, mengganti Rencana Pendidikan 1964 yang dicitrakan sebagai produk Orde Lama. Dari segi tujuan pendidikan, Kurikulum 1968 bertujuan bahwa pendidikan ditekankan pada upaya untuk membentuk manusia Pancasila sejati, kuat, dan sehat jasmani, mempertinggi kecerdasan dan keterampilan jasmani, moral, budi pekerti, dan keyakinan beragama.
5 1975 “MBO (management by objective)” Kurikulum 1975 menekankan pada tujuan, agar pendidikan lebih efektif dan efisien. Latar belakang lahirnya kurikulum ini adalah pengaruh konsep di bidang manajemen, yaitu MBO (management by objective) yang terkenal saat itu. Metode, materi, dan tujuan pengajaran dirinci dalam Prosedur Pengembangan Sistem Instruksional (PPSI), yang dikenal dengan istilah "satuan pelajaran", yaitu rencana pelajaran setiap satuan bahasan.
6 1984 “Kurikulum 1975 yang disempurnakan” Kurikulum 1984 mengusung process skill approach. Meski mengutamakan pendekatan proses, tapi faktor tujuan tetap penting. Posisi siswa ditempatkan sebagai subjek belajar. Dari mengamati sesuatu, mengelompokkan, mendiskusikan, hingga melaporkan. Model ini disebut Cara Belajar Siswa Aktif (CBSA) atau Student Active Learning (SAL).
7 1994 “Kurikulum Penyatuan” Kurikulum 1994 merupakan hasil upaya untuk memadukan kurikulum-kurikulum sebelumnya, terutama kurikulum 1975 dan 1984. Sayang, perpaduan antara tujuan dan proses belum berhasil. Sehingga banyak kritik berdatangan, disebabkan oleh beban belajar siswa dinilai terlalu berat, dari muatan nasional sampai muatan lokal. Materi muatan lokal disesuaikan dengan kebutuhan daerah masing-masing, misalnya bahasa daerah, kesenian, keterampilan daerah, dan lain-lain.
8 1999 “Suplemen Kurikulum” Kejatuhan rezim Soeharto pada 1998, diikuti kehadiran Suplemen Kurikulum 1999. Tapi perubahannya lebih pada menambal sejumlah materi pelajaran saja.
9 2004 “KBK (Kurikulum Berbasis Kompetensi)” Suatu program pendidikan berbasis kompetensi harus mengandung tiga unsur pokok, yaitu: pemilihan kompetensi yang sesuai; spesifikasi indikator-indikator evaluasi untuk menentukan keberhasilan pencapaian kompetensi; dan pengembangan pembelajaran.
10 2006 “KTSP (Kurikulum Tingkat Satuan Pendidikan)” Pada kurikulum 2006, pemerintah pusat menetapkan standar kompetensi dan kompetensi dasar, sedangkan sekolah dalam hal ini guru dituntut untuk mampu mengembangkan dalam bentuk silabus dan penilaiannya sesuai dengan kondisi sekolah dan daerahnya. Hasil pengembangan dari semua mata pelajaran, dihimpun menjadi sebuah perangkat yang dinamakan Kurikulum Tingkat Satuan Pendidikan (KTSP).
11 2013 “KURTILAS” Kurikulum 2013 berbasis kompetensi memfokuskan pada pemerolehan kompetensi-kompetensi tertentu oleh peserta didik. Dalam implementasi kurikulum, guru dituntut secara profesional merancang pembelajaran secara efektif dan bermakna, mengorganisir pembelajaran, memilih pendekatan pembelajaran yang tepat, menentukan prosedur pembelajaran dan pembentukan kompetensi secara efektif, serta menetapkan kriteria keberhasilan.
12 2022-sekarang “Kurikulum Merdeka” Karakteristik utama dari Kurikulum Merdeka ialah Fokus pada materi esensial sehingga pembelajaran lebih mendalam. Waktu lebih banyak untuk pengembangan kompetensi dan karakter melalui belajar kelompok seputar konteks nyata (Projek Penguatan Profil Pelajar Pancasila).

Jika kita membandingkan proses terjadinya dinamika kurikulum pendidikan dengan negara-negara maju yang lain, seperti Finlandia misalnya. Negara Finlandia dalam beberapa dekade ini dinobatkan sebagai salah satu negara dengan sistem pendidikan terbaik di dunia. Berikut uraian singkat perbandingan kondisi pendidikan di Indonesia dengan Finlandia:

Salah satu penyebab kualitas pendidikan Indonesia rendah adalah dinamika perubahan kurikulum pendidikan nasional. Sejak tahun 1947 sampai saat sekarang, Indonesia sudah melakukan 11 kali perubahan kurikulum. Perubahan tersebut dilakukan untuk meningkatkan kualitas pendidikan Indonesia. Sementara sistem pendidikan Finlandia berada pada peringkat atas karena berasaskan kesetaraan, tanggung jawab, berbudaya, serta kerjasama yang dapat menciptakan perpaduan yang memadai. Kesuksesan negara Finlandia dapat menjadi sebuah acuan bagi negara Indonesia untuk meningkatkan kualitas sistem pendidikan. Berikut perbandingan sistem pendidikan dasar di Indonesia dengan Finlandia:

Dari hal tersebut dapatkah kita menyimpulkan bahwasannya sistem pendidikan Indonesia mengenal sistem rangking sehingga menimbulkan kompetisi bagi setiap anak. Adanya target nilai yang harus dicapai mengakibatkan sistem tinggal kelas. Hal ini berdampak pada psikologi anak terhadap anak lainnya untuk bersaing mendapatkan nilai yang harus dicapai oleh anak. Pendidikan di Indonesia memfokuskan pada pemberian materi pembelajaran dan kurikulum pendidikan kurang praktek dan banyak ujian, sedangkan penilaian berdasarkan penilaian autentik, dan tidak memperhatikan not child left behind (NCLB). Terdapat peringkat dan perbedaan kemampuan siswa. Sedikitnya lembaga organisasi masyarakat untuk membantu memberikan pendidikan dan keterampilan pada siswa dan saluran untuk bekerja.

Komentari Tulisan Ini
Tulisan Lainnya
Urgensi Madrasah Mualaf

  Oleh : Ahmad Abdul Wahab, S.Pd.   Hidayah itu sangat mahal harganya. Bahkan bisa dikatakan tidak ternilai. Sebab, hidayah adalah ranah Ilahi. Termasuk untuk para mualaf yait

04/01/2022 21:00 - Oleh Administrator - Dilihat 1155 kali