BANGSRI, maamtsilati.com – Guna memperkuat komitmen bersama dalam menciptakan lingkungan pendidikan yang sehat, inklusif, dan bebas dari segala bentuk kekerasan, jajaran pengurus Pimpinan Komisariat (PK) IPNU IPPNU MA Amtsilati Bangsri Jepara turut serta menghadiri acara bergengsi "Forum Sosialisasi & Deklarasi Gerakan: Pesantren dan Madrasah Aman, Pelajar dan Santri Nyaman".
Acara yang diinisiasi oleh Pimpinan Cabang (PC) IPNU IPPNU Kabupaten Jepara ini diselenggarakan pada hari Sabtu, 13 Juni 2026, bertempat di Gedung PCNU Jepara. Kegiatan ini dihadiri oleh berbagai elemen penting pemerintahan dan aparat penegak hukum daerah, di antaranya Kapolres Jepara, Bupati Jepara, Ketua DPRD Jepara, serta Kepala Kejaksaan Negeri Jepara, yang bersinergi bersama para aktivis pendidikan, anak, serta ratusan delegasi pelajar dari Pimpinan Komisariat MTS/MA se-Kabupaten Jepara.
Sebagai madrasah yang berbasis pondok pesantren dan berkomitmen tinggi terhadap pengembangan karakter islami yang moderat, MA Amtsilati mengirimkan delegasi terbaiknya, termasuk Ketua IPNU dan Ketua IPPNU MA Amtsilati masa bakti berjalan, yakni Rekan Kemas dan Rekanita Adzro.

Ditemui seusai acara deklarasi, Ketua PK IPNU MA Amtsilati, Rekan Kemas, memberikan pandangan mendalam mengenai urgensi gerakan ini, khususnya terkait isu perundungan (bullying) yang masih menjadi momok di ranah pendidikan nasional.
"Kenyamanan dalam belajar adalah hak mutlak setiap pelajar dan santri. Di forum ini, kami mempertegas posisi bahwa pesantren dan madrasah harus menjadi benteng moral, bukan tempat tumbuhnya bibit-bibit perundungan. Tindakan bullying baik fisik, verbal, maupun siber, harus dipangkas habis dari akar kebiasaan lingkungan madrasah. Lewat partisipasi dalam deklarasi ini, PK IPNU MA Amtsilati siap mengawal dan mengedukasi seluruh siswa agar saling merangkul, menghargai, dan menumbuhkan atmosfer persaudaraan yang sehat," tegas Kemas dengan penuh semangat.
Senada dengan hal tersebut, Ketua PK IPPNU MA Amtsilati, Rekanita Adzro, menyoroti pentingnya keadilan, kesetaraan gender, serta pemenuhan hak-hak rasa aman yang inklusif di lingkungan madrasah. Sesuai dengan nilai-nilai Rahmatan lil 'Alamin yang diajarkan di madrasah, ruang aman harus dipastikan merata tanpa diskriminasi.
"Madrasah yang aman adalah madrasah yang memberikan pelindungan utuh kepada seluruh siswanya, tanpa terkecuali, baik putra maupun putri. Kami di IPPNU sangat menyoroti isu kesetaraan gender dan ruang aman ini. Pelajar putri harus memiliki ruang yang setara untuk berekspresi, memimpin, dan menuntut ilmu tanpa dibayangi rasa takut akan kekerasan seksual, pelecehan, ataupun perlakuan diskriminatif lainnya. Melalui momentum Sosialisasi & Deklarasi Gerakan ini, kami berharap MA Amtsilati bisa terus konsisten menjadi role model madrasah ramah anak yang menghargai hak asasi dan martabat setiap individu," ungkap Adzro.

Keikutsertaan delegasi MA Amtsilati dalam forum komunikasi dan deklarasi ini membuktikan bahwa madrasah tidak hanya fokus pada pencapaian akademis dan pendalaman kitab kuning semata, melainkan juga responsif terhadap isu-isu sosial-kemasyarakatan kontemporer. Hal ini juga selaras dengan implementasi Proyek Penguatan Profil Pelajar Pancasila Rahmatan lil Alamin (P5PPRA) di madrasah yang terus digalakkan guna melahirkan generasi yang dinamis, inovatif, dan berakhlakul karimah.
Dengan dideklarasikannya gerakan "Pesantren dan Madrasah Aman, Pelajar dan Santri Nyaman", PK IPNU IPPNU MA Amtsilati berkomitmen untuk membawa pulang spirit positif ini untuk diterapkan secara nyata di lingkungan madrasah tercinta, demi mewujudkan visi pendidikan islami yang aman, nyaman, dan berkemajuan.
Penulis dan editor: Tim Media MA Amtsilati