Ahmad Abdul Wahab, S.Pd.
( Guru MA Amtsilati )
Ada yang menarik di salah satu ruangan kelas di MA Amtsilati pada Rabu (9/10) kemarin. Nampak beberapa siswa dan siswi tampil ekspresif di depan kelas. Meskipun sebagian masih tampak malu dengan penampilan masing-masing, seluruh peserta tampak hanyut dan antusias mengikuti kelas puisi yang telah berlangsung dua kali tersebut.
Para peserta dengan saksama mendengarkan dan mencermati tentang apa dan bagaimana berpuisi yang disampaikan oleh Raisul Hakim, guru Pendidikan Kewarganegaraan sekaligus pemandu kelas puisi ini, yang rutin diadakan setiap hari Rabu.
“Dari awal memang suka menulis. Kelas puisi ini membuat saya bisa lebih mengenal apa itu diksi, aksentuasi, artikulasi, intonasi, dan sebagainya,” ujar Marhsa, salah satu siswa peserta kelas puisi.
Mahesa Syauqon Najah, siswa kelas X-6, juga berbagi pengalamannya. Ia mengaku telah lama menantikan kesempatan ini. Baginya, kelas puisi adalah wadah untuk menyalurkan bakat dan minatnya.
“Puisi memang tidak begitu populer bagi sebagian orang. Namun, bagi saya, puisi adalah bentuk aktualisasi diri,” ungkap Mahesa.
Ia juga menambahkan bahwa masih banyak yang salah paham atau memandang sebelah mata terhadap puisi. Padahal, menurutnya, puisi bisa sangat menyenangkan dan bermakna.
“Puisi masih dianggap remeh-temeh. Padahal, banyak hal yang bisa dipelajari, terutama karena puisi sangat lekat dengan unsur sastra,” ujar Mahesa, pemenang lomba baca puisi tingkat nasional yang diselenggarakan oleh Badan Amil Zakat Nasional (BAZNAS) pada tahun 2018.
“Melalui puisi, ide dan gagasan kita bisa tersampaikan dengan lebih baik, daripada melakukan aksi anarki,” lanjutnya.
Sementara itu, Raisul Hakim menyambut baik antusiasme siswa-siswi dalam mengikuti kelas puisi. Hal ini menunjukkan bahwa tingkat literasi siswa masih tinggi, meskipun minat terhadap puisi kalah jauh dibandingkan bentuk sastra lainnya.
“Memang, saat ini puisi tidak lagi menjadi sesuatu yang dianggap keren, kalah populer dengan karya sastra lain. Padahal, puisi itu lebih bernilai sastra. Seni membaca puisi tidak terbatas dan membutuhkan kajian linguistik dan semiotik yang mendalam,” ujar Raisul Hakim, suami dari Nurul Fadhilah, yang juga merupakan staf pengajar di MA Amtsilati.
Ia mendorong para siswa untuk meneladani kiprah pengasuh Pondok Pesantren Darulfalah Amtsilati, KH Taufiqul Hakim, yang tak pernah lelah berkarya.
“Abah Yai sendiri adalah penikmat sastra dan banyak karyanya yang telah diluncurkan. Meskipun jumlah puisinya belum banyak, namun beliau kerap membuat kutipan-kutipan inspiratif. Bahkan, dalam penciptaan kitab Amtsilati, beliau menggunakan nadhom. Nadhom adalah syi’ir, syi’ir adalah syair, dan syair adalah pengelolaan kata yang menjadi indah dalam tulisan. Hal ini menciptakan daya tarik estetis bagi para pembacanya,” pungkas Raisul Hakim, penikmat seni pertunjukan dan puisi.